Home > Artikel Bebas > Potret Buram Pendidikan

Potret Buram Pendidikan

Sudah lebih dari setengah abad kita terlepas dari penjajahan,namun ‘’kemerdekaan’’ belum juga kita rasakan. Kemerdekaan untuk menikmati pendidikan yang merupakan fondasi dalam pembangunan nasional.

Angka putus sekolah di Indonesia cukup tinggi. Dinas pendidikan menyebutkan,angka putus sekolah di tingkat SD mencapai sekitar 500 siswa setiap tahunnya yang terdiri SD Negeri,SD Swasta, dan Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan di kota-kota besar tercatat 1000 lebih anak putus sekolah yang didominasi oleh anak-anak sekolah menengah pertama.

Tingginya angka putus sekolah ini disebabkan oleh kondisi ekonomi orang tua yang kurang mampu.Karenanya tidak sedikit orang tua hanya pasrah. Anak tidak sekolah pun tidak apa- apa karena,kemampuan tidak ada. Akibatnya banyak anak terpaksa tidak bisa menikmati bangku sekolah secara wajar.

Wajib Pendidikan 9 tahun yang dicanangkan pemerintah,merupakan harapan indah bagi rakyat kecil kurang mampu. Karena dengan pencanangan itu biaya sekolah akan menjadi ringan. Tetapi,kenyataannya seperti tahun ajaran sekarang,para orang tua menjerit baik untuk anak yang mau masuk sekolah maupun yang naik kelas sebab biayanya melangit. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah yang katanya ingin mencerdaskan rakyat dan mengentaskan dari kebodohan. Selain itu juga karena kurangnya kesadaran orang tua terghadap pentingnya pendidikan bagi anak. Mereka lebih suka membeli barang-barang konsumtif daripada harus menyekolahkan anak.

Jika pemerintah mau memperhatikan secara serius masalah pendidikan ini,tentunya biaya pendidikan bisa murah atau bahkan tidak dikenakan biaya bagi mereka yang benar-benar tidak mampu.Beasiswa yang diberikan pemerintah juga tidak menyelesaikan persoalan ini .Karena,beasiswa tersebut diberikan terhadap anak yang masih bersekolah saja.Seharusnya,mereka yang sudah putus sekolah mendapatkannya,sehingga mereka bisa bersekolah. Dengan demikian anak-anak bangsa yang menjadi tumpuan harapan di masa depan akan tercipta. Jadi,bukan hanya slogan atau janji belaka.

Masalah tidak berhenti disitu saja, gedung-gedung sekolah digunakan untuk mencari ilmu sudah tidak layak dihuni masih saja digunakan untuk belajar.Sudah banyak kasus robohnya gedung sekolah yang disebabkan rapuh dimakan usia. Hal ini harus diperhatikan karena menyangkut kenyamanan saat proses belajar-mengajar.Ini biasanya dialami oleh sekolah-sekolah pinggiran yang dihuni oleh siswa dengan ekonomi menengah kebawah.

Bagaimana kita akan memperbaiki pola pikir bangsa,kalau kita mau dan selalu ditindas kebodohan ketidakberdayaan,kemalasan.
kapan…? Bangsa ini akan benar-benar merdeka dari kebodohan…!

by : Fir’atussholihah

Categories: Artikel Bebas
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: